Semesta Bertasbih!

Februari 27th, 2009 by abdillah

Assalamu’alaikum Wr. Wbr,

Dalam ruang semesta ini, semuanya dicipatakan untuk bertasbih kepadaNya. Manusia diciptakan dengan kelebihannya untuk membawa keberkahan atas makhluk lain ciptaan-Nya. Hanya dengan berpegang teguh kepada Syariah yang telah diwahyukan kepada para Rasul-Rasul & Nabi-Nabi-Nya lah akan tercipta keberkahan yang Rahmatan Lil Alamin dimuka Bumi Indonesia.

Wassalamu’alaikum Wr. Wbr.

Semesta Bertasbih - Opick

Berhaji sempurnakan “4 sehat” ber-islam

Oktober 25th, 2009 by abdillah

Tak terasa musim haji telah tiba kembali…satu peristiwa yang disatu sisi duniawi mendatangkan devisa terbesar bagi negara Arab Saudi, bahkan mungkin merupakan “pasar - pariwisata’ terbesar seluruh dunia. Inilah, dari segi duniawi, yang dilimpahkan oleh Allah yang Maha Kaya untuk negara Saudi selain kekayaan minyaknya berkat doa Nabi Ibrahim dan Ismail beberapa ribu tahun silam.

Dalam Islam, melaksanakan ibadah haji merupakan penyempurnaan dari “4 kesehatan islam” sebelumnya yang telah menjadi syarat wajib setiap umat: Syahadat, Shalat, Puasa, dan Zakat.

Hari ini ada pelajaran istimewa bagaimana mempersiapkan haji dari seorang ustadz ketika memberikan walimatul safar kepada seorang kolega di seputaran jakarta timur. Pak ustadz (yang sebenarnya tidak mau disebut “ustadz”) menceritakan bagaimana beliau yang juga menurut pengakuannya sebagai pegawai negeri “rendahan” di salah satu departemen dapat menunaikan ibadah haji adalah ’mukjizat” dari Allah SWT, mengingat biaya haji yang hampir 40 Juta saat itu sangatlah jauh dari kemampuannya.

Beliau menyampaikan, menjalankan ibadah haji merupakan suatu perjalanan “bertamu” di Rumah Allah dan atas undangan Allah. Nah, sebelum dapat memenuhi undangan Allah, langkah pertama agar bisa menjadi tamu Allah adalah tentu saja mengundang Allah di rumah kita. Hal ini dilakukan beliau dengan “memohon dengan doa” setiap saat setelah Shalat wajib dan sunnah kepada Allah SWT yang dilakukan di rumah. 

Doa tentu saja harus dibarengi dengan ikhtiar agar dapat mencapai tujuan. Beliau melakukan ikhtiar tersebut dengan menabung sedikit demi sedikit di “kotak ka’bah” sebagai simbolisasi keinginan beliau untuk haji yang beliau buat dari karton dirumahnya  setiap kali ada rezeki.

Pertama memulai menabung seribu, duaribu…lima ribu dan seterusnya  seberapun ada rezeki lebih. Sehari, seminggu,… sebulan,… dan setahun ternyata hampir penuh juga “kotak ka’bahnya”. Namun pada suatu hari, ketika beliau pulang dari kantor, anaknya memberitahukan bahwa temannya sakit sudah seminggu ini tidak bisa masuk sekolah. Tanpa berpikir panjang, beliau langsung menuju kotak ka’bah dan membukanya.. Alhamdulillah terkumpul sejumlah 1,5 Juta rupiah selama setahun. (masih sangat jauh dari dana haji yang waktu itu 30 Juta pikirnya), namun tentu saja teman anaknya lebih membutuhkan. Beliau pun bersama anaknya langsung menuju rumah teman anaknya menemui orang tuanya dan melihat kondisi teman anaknya tersebut. Orang tua anak tersebut (pak Fulan) mengatakan tidak punya dana untuk membawa ke rumah sakit. Beliau menyerahkan 1,5 Juta yang dikumpulkan dari kotak ka’bah untuk membantu pengobatan teman anaknya. Beliapun langsung mengantarkan ke rumah sakit daerah terdekat.

Alhamdulillah, sampai rumah sakit langsung mendapatkan perawatan. Anak tersebut sakit karena bekerja terlalu berat membantu orang tuanya yang “kuli bangunan”. Anak tersebut “turun berok” karena mengangkat benda-benda berat membantu orang tuanya selepas sekolah. Mukjizat Allah, dalam waktu dua hari satu malam di rumah sakit anak tersebut  dapat disembuhkan. Tiga hari kemudian, pak Fulan bertamu ke pak ustadz, untuk mengucapkan terima kasih telah membantu dan akan mengembalikan uang 1 juta sisa pengobatan. Biaya berobat waktu itu hanya 500Ribu. Namun dengan rendah hati pak ustadz tidak menerima pengembalian tersebut dan menyampaikan ke pak Fulan agar memanfaatkan 1 Juta untuk pendidikan anaknya, sehingga dapat melanjutkan sekolah tanpa harus bekerja membantu orang tuanya.

Selepas dari peristiwa tersebut, pak Ustadz pun terus rajin mengisi kembali kotak ka’bahnya. Alhamdulillah, berkat kuasa Allah rezeki pak ustadz pun makin mengalir dan lebih baik dari sebelumnya. Pak ustadz dapat menabung lebih banyak 10 ribuan setiap saat menyisihkan dana ke kotak ka’bah. Hal ini diperolehnya dari kenaikan gaji di kantornya (waktu itu gaji pegawai negeri terendah naik hampir 200%) dan juga dari makin banyaknya undangan untuk mengisi acara keagamaan baik di kantor maupun di sekeliling tempat tinggalnya. Singkat kata, dalam setahun beliau mampu mengisi kotak ka’bahnya 6 Juta rupiah. Masih jauh memang dari biaya yang diperlukan, namun dengan masukan dari koleganya pak ustadz bermaksud memindahkan dana tersebut ke bank sekaligus untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan antrian calon haji.

Namun kembali ujian Allah kepada hambanya yang ingin mengunjungi rumahnya kembali dialami oleh pak Ustadz. Kakak beliau tercinta harus mendapatkan pengobatan di rumah sakit karena terkena serangan jantung. Tentu saja pengobatan untuk penyakit jantung tidaklah murah, dan seluruh keluarga besar pun saling membantu untuk pengobatan di rumah sakit khusu jantung di bilangan Jakarta Barat. tak terkecuali dengan pak ustadz memberikan semua 6 juta tabungan ka’bahnya untuk biaya pengobatan kakak tercintanya.

Namun Allah menentukan lain, kakak tercintanya tidak dapat diselamatkan dan dipanggil terlebih dahulu menghadap-Nya. Innalillahi….. sedikitpun tidak ada rasa menyesal dari pak ustadz walaupun uang tabungannya tidak bisa menyelamatkan kakak tercintanya. Beliau ikhlas dan ridho, telah bisa turut serta memberikan bantuan (tabarru’) untuk yang ditimpa musibah. Semoga Allah memberikan yang lebih baik dan jalan lebih cepat untuk mencapai keinginan belian ke Baitullah.

Dan benar, keikhlasan dan keridhoannya berbuah, Pak ustadz pun mendapatkan promosi di kantornya dan semakin banyak undangan mengisi acara keagamaan tidak hanya di kantor departemennya namun juga kantor departemen lain yang sering mengadakan rapat koordinasi termasuk lembaga negara lain seperti dpr, mpr, bpk dll. Pak ustadz pun makin giat menabung kembali di kotak ka’bahnya..dan mengisi dengan lembaran uang yang lebih besar 20 ribuan dan 50 ribuan. Alhasil dalam setahun di kotak yang sama dapat terkumpul 25 Juta, jauh berlipat dari tahun sebelumnya.

Beliau kemudian berencana memindahkan danan tersebut ke Bank dan mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor antrian calon haji. Sesampainya di Bank beliau mendapatkan informasi bahwa saat itu masih ada tersisa 2 nomor antrian yang langsung bisa berangkat tahun itu juga apabila beliau bisa melunasi 15 juta lagi dalam seminggu, dan apabila tidak maka beliau kemungkinan besar baru akan bisa berangkat tahun berikutnya. Beliapun pasrah dan ikhlas untuk berangkat tahun berikutnya, namun belum sempat beliau keluar dari Bank, HPnya berbunyi dan salah satu pimpinan department dimana beliau pernah mengisi acara keagamaan menelponya, “ Assalamu’alaikum pak Ustadz, apa kabar, sehat ya? Saya mendengar pak ustadz akan berhaji tahun ini?”. Beliapun menyampaikan bahwa untuk tahun ini belum bisa berangkat karena masih belum cukup dananya. “Insya Allah, pak Ustadz bisa berhaji tahun ini, biar saya yang menutup kekurangannya” demikian yang didengar pak ustadz dari HPnya. Masya Allah, Alhamdulillah dengan kekuasaan-Nya keinginan yang kuat, keihlasan dan keridhoan serta ikhtiar dan amalan tabarru’ yang dijalankan akhirnya pak Ustadz dapat mencapai cita-citanya menyempurnakan ”4 kesehatan” rukun islamnya.

Labaik Allahuma Labaik….Ya Allah aku datang memenuhi Panggilan Mu…

Save 10% for Crisis Income

Oktober 11th, 2009 by abdillah

Tahukah kita hari yang akan datang? pasti tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi dihari mendatang karena hanya DIA lah yang MAHA mengetahui.

Lalu apa bagaimana kita sebagai manusia mengantipasi kejadian yang akan datang? Beberapa firmanNya telah ditunjukkan kepada kita bagaimana kita mempersiapkan dan mengantisipasi kejadian yang akan datang. Salah satunya adalah pelajaran dari penafsiran mimpi Raja yang diberikan Nabi Yusuf bahwa akan datang masa 7 tahun dimana berlimpah dengan harta dan masa 7 tahun dengan kekurangan dimana-mana. Sebagai Raja yang sangat mencintai rakyatnya, maka Sang Raja kemudian memerintahkan rakyatnya untuk manabung dan menyimpan sebagian harta sebagai persiapan ketika masa kesulitan datang. Inilah sebenarnya prinsip proteksi (asuransi) telah dikenalkan berabad-abad yang lalu.

Bagaimana dengan saat ini?

Kita sebagai pencari income keluarga tentu sangat mencintai keluarga kita, maka tidak ada salahnya kita memberikan proteksi terhadap income apabila ada masa-masa dimana income itu tidak ada atau terhambat sehingga keluarga kita tidak terkena dampaknya terutama untuk istri dan anak-anak penerus kita.

Income tidak berjalan bisa dikarenakan masalah penurunan kegitanan ekonomi seperti PHK,   omset bisnis yang turun, harga yang mahal dan lain sebagainya. Untuk memproteksinya kita harus menyisihkan sebagian dari income kita sebagai DANA DARURAT untuk bisa memiliki tabungan yang menutup MINIMAL 24 x ICOME Bulanan kita. Sebagi contoh income kita 20 Juta per bulan, maka kita harus menyisihkan income kita sehingga kita memiliki tabungan DANA DARURAT minimal Rp. 480 Juta yang kan mencukupi keluarga kita selama terjadinya krisis ekonomi.

Hal kedua yang bisa menganggu income kita adalah krisis karena kesehatan. Banyak kejadian income seseorang berhenti karena pencari income mengalami musibah sakit kritis seperti stroke, jantung, dan kanker. Tentu berbeda dengan krisis ekonomi yang seperti sebelumnya dijelaskan, krisis  income karena kesehatan lebih tidak mudah untuk diketahui kapan datangnya dan berapa lama terjadi. Untuk itulah perlunya kita bersama-sama saling membantu (ber-tabaru’) sesama umat untuk saling melindungi apabila ada salah satu diantara kita mengalami musibah krisis income karena kesehatan.

Dengan ber-tabaru’ kita bisa menyelamatkan keluarga kita dan keluarga lainnya dari krisis income karena musibah kesehatan.

Save 10% Income for Crisis Income dengan ber-tabaru untuk kita bersama.

Salam,

“Mindring” Syariah

April 13th, 2009 by abdillah

Minggu lalu, habis pesata contrengan saya meluncur ke daerah timur pantura mengunjungi rekan-rekan penggiat asuransi syariah disana.. ada tujuh orang yang tengah berjibaku untuk mewujudkan keberkahan di pantai utara yang dimasa ke-EMAS-an ISLAM merupakan pusat kegiatan dakwah yang sangat maju… dengan walisanganya…

Salah satu dari tujuah penggiat asuransi syariah ini kebetulan memang putra dari keluarga besar seorang kyai terpandang di Pantura. Kami sengaja mengajaknya untuk mencoba masuk komunitas santri di Pantura. Sudah hampir satu bulan ini putra pak kyai ini bergabung dengan kami, dan sudah beberapa kali melakukan kegiatan (action) seuai yang telah kami pelajari di pusat pelatihan yang sangat representative di Jakarta.

Namun tak terduga, dalam kesempatan kemarin ini, putra pak kyai ini menyampaikan hambatan yang membuatnya tidak bisa menjalankan kegiatannya dengan lancar…. memang kami sudah dididik bahwa untuk menjadi penggiat kegiatan asuransi syariah ini penuh dengan tantangan yang diantaranya tantangan dan hambatan dari (1) masyarakat (2) teman-teman dekat (3) keluarga (4) diri sendiri. Dalam setiap kesempatan motivasi yang disampaikan leader-leader kami tantangan terbesar adalah pada diri sendiri karena rasa 3M (malu, malas, dan mati akal).

Namun untuk putra pak kyai ini tidak demikian, dari awal semangatnya sangat luar biasa karena keyakinan kuat yang terpatri dalam dirinya bahwa solusi yang ditawarkan dapat membawa kembali kebesaran dan ke-EMAS-an islam yang pernah diraih kakek-moyangnya dulu di daerah pantura dan membawa keberkahan bumi Indonesia di Pantura. Boleh dibilang hambatan diri sendiri hampir tidak ada. Hambatan yang dialami justru datang dari keluarga yang tidak lain sang ayah alias pak kyai tersohor di Pantura.  Dengan penuh kegetiran, putra pak kyai ini menceritakan bahwa dirinya DILARANG untuk bergabung menjadi penggiat asuransi syariah…. banyak hal yang disampaikan pak kyai tentang ke”nista”an yang akan menimpa “harga diri” keluarga pak kyai yang sangat terpandang dengan sebuah pertanyaan:  “mosok putra kyai terpandang kok jadi MINDRING??”

Sejenak langsung terlintas dalam ingatan saya kata “MINDRING’ ketika dulu saya masih kelas 2 SD di suatu desa pelosok selatan jawa… ya “MINDRING…” terlintas dalam bayang pikiran saya orang yang jalan dari rumah ke rumah menawarkan barang dan peralatan keperluan dapur…. orang yang sewaktu saya kecul dulu banyak dicibir oleh kalangan priyayi sebagai pekerjaan yang “rendah” .

Sejelek itukah profesi sebagai “MINDRING”… walaupun yang ditawarkan adalah solusi syariah yang bisa membawa keberkahan bumi Pantura?

Apa salahnya jadi MINDRING Syariah?


Unit Link Syariah

Maret 2nd, 2009 by abdillah

 Apakah sudah baca buku “Jangan Beli Unit Link bila Anda tidak paham benar!!” karangan Freddy Pieloor, CFP

Demikian telepon sahabat karib saya awal bulan Februari lalu. Sahabat saya ini memang baru saja closing SPAJ Asuransi Unit Link Syariah pada salah seorang agen yang saya rekomendasikan. “Coba baca deh, disitu dijelaskan bahwa investasi di unit link akan mengalami kerugian dan penyesalan yang sia-sia dan akan menghiasi sisa perjalan hidup Anda…” begitu lanjut sahabat saya.

Baik saya coba car bukunya dan saya pelajari, begitu jawab saya ke sahabat saya dan beberapa hari kemudian saya menyempatkan diri untuk mencari buku yang dimaksud.

Setelah saya mendapatkannya dan membaca buku ini memang ditulis dengan judul yang provokatif dan membuat orang mungkin ragu untuk membeli Unit Link dari perusahaan asuransi.

Dalam buku itu diberikan analisis adanya 7 (tujuh) kekurangan unit link dibandingkan dengan investasi dan proteksi yang dilakukan melalui instrumen investasi lainnya serta asuransi secara terpisah. Kekurangan unit link itu diantaranya (1) biaya pengelolaan investasi fee yang lebih tinggi (2) biaya asuransi sebenarnya yang lebih rendah dari biaya premi/kontribusi bulanan yang dibayarkan (3) biaya akusisi yang lebih tinggi ditahun awal, biasaya 2 atau 3 tahun awal (4) persyaratan polis yang cukup rumit dan biasanya tidak diketahui nasabah di awal (5) menggunakan harga unit masuk dan keluar menggunakan harga hari berikutnya (6) masih dikenakan biaya administrasi perbulan yang relatif besar (7) pajak ganda apabila dana dicairkan sebelum tahun ketiga.

Ya ulasan buku itu memang ada benarnya “kalau kita hanya berpiki uang dan untung rugi”…. tapi pernahkan kita berpikir bahwa dibalik untung rugi masih ada yang lebih bermanfaat dalam jangka panjang? itulah yang terlewat dalam buku ini….

Dalam kehidupan ini kadang tidak semua dihitung dengan untung rugi…sebagaimana Yang Maha Kuasa telah memberikan limpahan Rahmad dan Rizki yang tak terhingga untuk kita saling berbagi sebagaimana firmannya: “sebaik-baiknya makhluk Allah adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya”..

Kita menabung tidak harus mementingkan diri sendiri, tetapi kita bisa menabung sekaligus membawa berkah Rahmatan Lil Alamin bagi yang lain. Dalam Unit Link Syariah setidaknya ada 3 (tiga) manfaat yang dapat diperoleh kita sebagai penabung dan anggota lainnya yang bergabung dengan Unit Link Syariah. Ketiga hal itu adalah:

(1) Bagi Hasil Tabungan, (2) Hibah Tabarru bagi Anggota Keluarga lainnya, dan tentu (3) Proteksi Diri da Keluarga Kita.

Unit Link