Tak terasa musim haji telah tiba kembali…satu peristiwa yang disatu sisi duniawi mendatangkan devisa terbesar bagi negara Arab Saudi, bahkan mungkin merupakan “pasar - pariwisata’ terbesar seluruh dunia. Inilah, dari segi duniawi, yang dilimpahkan oleh Allah yang Maha Kaya untuk negara Saudi selain kekayaan minyaknya berkat doa Nabi Ibrahim dan Ismail beberapa ribu tahun silam.
Dalam Islam, melaksanakan ibadah haji merupakan penyempurnaan dari “4 kesehatan islam” sebelumnya yang telah menjadi syarat wajib setiap umat: Syahadat, Shalat, Puasa, dan Zakat.
Hari ini ada pelajaran istimewa bagaimana mempersiapkan haji dari seorang ustadz ketika memberikan walimatul safar kepada seorang kolega di seputaran jakarta timur. Pak ustadz (yang sebenarnya tidak mau disebut “ustadz”) menceritakan bagaimana beliau yang juga menurut pengakuannya sebagai pegawai negeri “rendahan” di salah satu departemen dapat menunaikan ibadah haji adalah ’mukjizat” dari Allah SWT, mengingat biaya haji yang hampir 40 Juta saat itu sangatlah jauh dari kemampuannya.
Beliau menyampaikan, menjalankan ibadah haji merupakan suatu perjalanan “bertamu” di Rumah Allah dan atas undangan Allah. Nah, sebelum dapat memenuhi undangan Allah, langkah pertama agar bisa menjadi tamu Allah adalah tentu saja mengundang Allah di rumah kita. Hal ini dilakukan beliau dengan “memohon dengan doa” setiap saat setelah Shalat wajib dan sunnah kepada Allah SWT yang dilakukan di rumah.
Doa tentu saja harus dibarengi dengan ikhtiar agar dapat mencapai tujuan. Beliau melakukan ikhtiar tersebut dengan menabung sedikit demi sedikit di “kotak ka’bah” sebagai simbolisasi keinginan beliau untuk haji yang beliau buat dari karton dirumahnya setiap kali ada rezeki.
Pertama memulai menabung seribu, duaribu…lima ribu dan seterusnya seberapun ada rezeki lebih. Sehari, seminggu,… sebulan,… dan setahun ternyata hampir penuh juga “kotak ka’bahnya”. Namun pada suatu hari, ketika beliau pulang dari kantor, anaknya memberitahukan bahwa temannya sakit sudah seminggu ini tidak bisa masuk sekolah. Tanpa berpikir panjang, beliau langsung menuju kotak ka’bah dan membukanya.. Alhamdulillah terkumpul sejumlah 1,5 Juta rupiah selama setahun. (masih sangat jauh dari dana haji yang waktu itu 30 Juta pikirnya), namun tentu saja teman anaknya lebih membutuhkan. Beliau pun bersama anaknya langsung menuju rumah teman anaknya menemui orang tuanya dan melihat kondisi teman anaknya tersebut. Orang tua anak tersebut (pak Fulan) mengatakan tidak punya dana untuk membawa ke rumah sakit. Beliau menyerahkan 1,5 Juta yang dikumpulkan dari kotak ka’bah untuk membantu pengobatan teman anaknya. Beliapun langsung mengantarkan ke rumah sakit daerah terdekat.
Alhamdulillah, sampai rumah sakit langsung mendapatkan perawatan. Anak tersebut sakit karena bekerja terlalu berat membantu orang tuanya yang “kuli bangunan”. Anak tersebut “turun berok” karena mengangkat benda-benda berat membantu orang tuanya selepas sekolah. Mukjizat Allah, dalam waktu dua hari satu malam di rumah sakit anak tersebut dapat disembuhkan. Tiga hari kemudian, pak Fulan bertamu ke pak ustadz, untuk mengucapkan terima kasih telah membantu dan akan mengembalikan uang 1 juta sisa pengobatan. Biaya berobat waktu itu hanya 500Ribu. Namun dengan rendah hati pak ustadz tidak menerima pengembalian tersebut dan menyampaikan ke pak Fulan agar memanfaatkan 1 Juta untuk pendidikan anaknya, sehingga dapat melanjutkan sekolah tanpa harus bekerja membantu orang tuanya.
Selepas dari peristiwa tersebut, pak Ustadz pun terus rajin mengisi kembali kotak ka’bahnya. Alhamdulillah, berkat kuasa Allah rezeki pak ustadz pun makin mengalir dan lebih baik dari sebelumnya. Pak ustadz dapat menabung lebih banyak 10 ribuan setiap saat menyisihkan dana ke kotak ka’bah. Hal ini diperolehnya dari kenaikan gaji di kantornya (waktu itu gaji pegawai negeri terendah naik hampir 200%) dan juga dari makin banyaknya undangan untuk mengisi acara keagamaan baik di kantor maupun di sekeliling tempat tinggalnya. Singkat kata, dalam setahun beliau mampu mengisi kotak ka’bahnya 6 Juta rupiah. Masih jauh memang dari biaya yang diperlukan, namun dengan masukan dari koleganya pak ustadz bermaksud memindahkan dana tersebut ke bank sekaligus untuk mendaftarkan diri untuk mendapatkan antrian calon haji.
Namun kembali ujian Allah kepada hambanya yang ingin mengunjungi rumahnya kembali dialami oleh pak Ustadz. Kakak beliau tercinta harus mendapatkan pengobatan di rumah sakit karena terkena serangan jantung. Tentu saja pengobatan untuk penyakit jantung tidaklah murah, dan seluruh keluarga besar pun saling membantu untuk pengobatan di rumah sakit khusu jantung di bilangan Jakarta Barat. tak terkecuali dengan pak ustadz memberikan semua 6 juta tabungan ka’bahnya untuk biaya pengobatan kakak tercintanya.
Namun Allah menentukan lain, kakak tercintanya tidak dapat diselamatkan dan dipanggil terlebih dahulu menghadap-Nya. Innalillahi….. sedikitpun tidak ada rasa menyesal dari pak ustadz walaupun uang tabungannya tidak bisa menyelamatkan kakak tercintanya. Beliau ikhlas dan ridho, telah bisa turut serta memberikan bantuan (tabarru’) untuk yang ditimpa musibah. Semoga Allah memberikan yang lebih baik dan jalan lebih cepat untuk mencapai keinginan belian ke Baitullah.
Dan benar, keikhlasan dan keridhoannya berbuah, Pak ustadz pun mendapatkan promosi di kantornya dan semakin banyak undangan mengisi acara keagamaan tidak hanya di kantor departemennya namun juga kantor departemen lain yang sering mengadakan rapat koordinasi termasuk lembaga negara lain seperti dpr, mpr, bpk dll. Pak ustadz pun makin giat menabung kembali di kotak ka’bahnya..dan mengisi dengan lembaran uang yang lebih besar 20 ribuan dan 50 ribuan. Alhasil dalam setahun di kotak yang sama dapat terkumpul 25 Juta, jauh berlipat dari tahun sebelumnya.
Beliau kemudian berencana memindahkan danan tersebut ke Bank dan mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor antrian calon haji. Sesampainya di Bank beliau mendapatkan informasi bahwa saat itu masih ada tersisa 2 nomor antrian yang langsung bisa berangkat tahun itu juga apabila beliau bisa melunasi 15 juta lagi dalam seminggu, dan apabila tidak maka beliau kemungkinan besar baru akan bisa berangkat tahun berikutnya. Beliapun pasrah dan ikhlas untuk berangkat tahun berikutnya, namun belum sempat beliau keluar dari Bank, HPnya berbunyi dan salah satu pimpinan department dimana beliau pernah mengisi acara keagamaan menelponya, “ Assalamu’alaikum pak Ustadz, apa kabar, sehat ya? Saya mendengar pak ustadz akan berhaji tahun ini?”. Beliapun menyampaikan bahwa untuk tahun ini belum bisa berangkat karena masih belum cukup dananya. “Insya Allah, pak Ustadz bisa berhaji tahun ini, biar saya yang menutup kekurangannya” demikian yang didengar pak ustadz dari HPnya. Masya Allah, Alhamdulillah dengan kekuasaan-Nya keinginan yang kuat, keihlasan dan keridhoan serta ikhtiar dan amalan tabarru’ yang dijalankan akhirnya pak Ustadz dapat mencapai cita-citanya menyempurnakan ”4 kesehatan” rukun islamnya.
Labaik Allahuma Labaik….Ya Allah aku datang memenuhi Panggilan Mu…